Tampilkan postingan dengan label segores cerpen segores rasa... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label segores cerpen segores rasa... Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Juli 2010

….i'm also her bestfriend


Menggeliat….hoaaaam…siang ini damai dan panas..ngengat diluar sana sibuk berbunyi..ngiiiing..ngiiing….

Tidurku nyenyak, dan aku masih malas malasan di depan tivi, di lantai yang adem.

Hmm..waktunya makan.

Nyam nyam….bau ikan tuna di “piring” sudah mengundang selera makanku.

Huup..beratnya, kugoyangkan panggulku dengan sexy. Tubuhku semakin berat saja rupanya, huft..biarlah, toh Lily selalu suka kucing gendut.

Nyam nyam...namaku Tonks. Setidaknya itu yang tertulis di buku riwayat kesehatanku. Aku seekor kucing betina cantik berbulu hitam putih. Campuran anggora Persia. Makanya aku terlihat angkuh. Hidungku tak begitu pesek, tapi lumayan cantiklah aku.mataku kuning, normal seperti warna mata kucing yang lain. Bulu-buluku lebat dan panjang apalagi dibagian ekor, warna hitam mendominasi, sedangkan warna putih ada di bawah perut sampai keleher, hmm..seperti memakai tuxedo. Ditambah ujung-ujung kakiku, semuanya berwarna putih, seperti memakai kaos kaki. Dengar-dengar, keunikan inilah yang membuat Lily memilihku dibanding 2 saudaraku yang berwarna kuning.

Nyam..nyam..umurku baru 12 bulan, baru dewasa menurut perhitungan umur kucing. Nyam nyam nyam… Sudah saatnya aku kawin, tapi tuan putri ku terlalu sibuk dengan percintaannya sendiri.huh..

Aku melirik pada perempuan muda yang baru saja melintas di depanku. Dia ke dapur. “ tooonks..”sambil tersenyum, dia menyapaku, kebiasaannya setiap dia lewat.Tapi aku cuek saja, nyam..nyam…

10 bulan yang lalu, perempuan itu membeliku dari tempat pak dokter, saat itulah aku berpisah dari ibu dan 2 saudara kembarku, entah siapa nama mereka sekarang. Tapi aku yakin…nyam.nyam…mereka sudah sama bahagianya denganku sekarang.

Lily Candradira…tuan putriku, memakai jilbab, berhidung mancung dan dagu terbelah. Ada sebuah lesung pipi cantik di sebelah kanannya. Matanya coklat tua dan rambutnya hitam bergelombang sepunggung. Menurutku dia manusia tercantik yang pernah kutemui [ ooi..emang ada berapa orang yang sudah pernah kutemui?hm…Pak dokter,istrinya, Lily, adik Lily-Amel- dan kedua orang tuanya, Cuma itu ;p, ah..oia, juga ada nenek Lily yang kadang berkunjung >,<>

Kadang-kadang Lily memangku aku sambil mengelus-elus buluku. Biasanya dia sambil bercerita tentang pacarnya-mas Adam-. Ayah Lily tak terlalu ramah padaku, entah kenapa. Beliau pernah memarahi Lily karna curhat padaku. Katanya jangan gila,kamu sudah besar, bersikaplah seperti wanita dewasa.huh…Padahal aku dengarkan semua crita-crita Lily, sambil bergelung dipangguannya dan mengeong yang jelas. Untung Lily Cuma tersenyum dan tetap saja mengelus-elusku.

Aku berhenti makan, sudah kenyang. Kuendus endus tempat minumku sebelum kuminum. Sluruup…lega. Hmm..waktunya tidur.

hah?! tidur lagi?!

Hehe…jangan kaget gitulah…namanya juga kucing. Kerjaku kan Cuma makan …tidur ..eek…meow..

Aku bergelung…di lantai depan TV, mepet ke tembok dan berusaha menyamankan tubuhku.

Baru setengah terpejam, tiba-tiba aku mendengar tuan putri menangis dari balik kamarnya. Kepalaku tegak, memasang telinga. Ah..aku harus menghiburnya. Aku pun bangun sambil menggeliat. Eh..tiba-tiba aku ingin menjilat-jilat buluku. Maaf…naluri >,<

Ekorku mengembang, ketika aku sampai di pintu kamar Lily yang setengah terbuka. Orang tua Lily sedang tak dirumah. Amel juga.Aku mengeong sekali dan berjalan masuk. Lily duduk di kursi meja riasnya,daster ungu panjangnya yang anggun membuatnya tetap cantik menurutku. Rambutnya terurai dan tangannya meremas baju di dadanya. Hmm…kenapa manusia ini suka sekali menangis.

Lily menoleh,lalu melihatku dengan kedua matanya yang telah basah. Manusia bilang itulah yang namanya air mata.aku heran kenapa bangsaku tak memilikinya. Sudahlah…yang penting sekarang adalah menghibur Lily.

Aku mengelus elus tubuhku di kaki Lily, mengeong sambil mendongak menatap matanya. Lily tersenyum…(yess!!) sedikit membungkuk untuk balas mengelus bulu tubuhku yang lembut.”meow..” aih..maaf Lily..hanya suara ini yang mampu kukeluarkan. Jangan sedih ya..aku disini. Hmm..seandainya Lily tahu maksud kedatanganku.

“makasih Tonks…tapi aku lagi sedih…benar-benar sedih” kata Lily masih mengelus2 tubuhku. Seakan-akan dia tahu apa yang kumaksudkan dengan meong-anku tadi. Aku berjinjit kearah tubuhnya, minta digendong. Llily paham dengan maksudku, persahabatan kami yang baru 10 bulan menurut perhitungannya. Bagiku sudah seperti 10 tahun untuk saling tahu masing-masing. Lily mengangkatku, dan mendudukkanku di pangkuannya.

Sedekat ini aku baru bisa lihat bahwa dia menahan sesuatu yang hebat. Dadanya bergetar kencang. Dia masih terisak sambil mengelus bulu-bulu ku. Aku mendengkur, karna Lily mengusap usap daguku. Kugoyang-goyangkan ekorku yang lebat dan hitam. Tak tahu mesti apa lagi.

“ adam…kenapa sekarang jarang telpon aku ya tonk…smsku juga jarang dibalas?”nanar matanya menatap cermin dengan sedih.aku hanya bisa mengeong…bergelung dan menikmati elusanmu Lily..meow.

ah..sudah kutebak..pasti soal adam. Manusia dari jenis Lily tapi disebut laki-laki. Mereka biasanya berambut pendek dan tidak mempunyai buah dada. Mereka kurang lembut dan hangat. Tak seperti Lilyku.

Meow...Heran deh..bisa-bisanya adam membuat tuan putriku nangis lagi. Ini udah yang… meow…kesekian kali. Padahal Adam berada jauh dari kota ini meow. Adam ada di kota dimana aku lahir. Jogjakarta.

Meow…Aku menjilat jilat bulu kaki depan.

Beberapa minggu ini, Lily sering kali begini, lebih sering kudapati dia mengecek sebuah benda yang dinamakan handphone dengan wajah muram. Entah benda apa itu, tapi benda itu bisa mengeluarkan suara Adam atau suara-suara manusia yang tak ada disini. Memang sudah lama aku tak mendengar suara adam dari benda itu..meow…

Sekilas kulihat dari sudut mataku…Llily menghapus air matanya, ku tatap wajah ayu itu. Dia tersenyum,”ah.pasti mas Adam masih sibuk mengurus organisasinya, Lily harus sabar ya tonks, Llily ndak boleh nangis…” terdiam sesaat, bibirnya bergetar hebat,”...tapi Llily kangeeeen sama mas Adam,.” ,”meooong..”jawabku (terjemahan: ..udaaah putusin aja >,<).

Lily beranjak, aku terkaget dan lompat.huh..gak bilang bilang mau berdiri. Aku menjilat jilat kaki depanku.

“Lily mau shalat istikharah…mau ambil wudhu, Tonk jangan ganggu ya”kata tuan putri sambil menggelung lengan dasternya hingga di atas sikut. Oke..oke…aku bobok diluar deh Ly…jangan nangis lagi ya..”

Dengan seksinya aku mengangkat ekorku, berjalan perlahan keluar kamar.

Aah..makan lagi ah….

aku berlari ke dapur,langsung menyambar “piring”yang masih ada makanannya.

Nyam..nyam…

I’m just a cat…..

3 malam sebelumnya…..

Braaak….!

Pintu kamar dibanting Lily sedikit keras. Aku yang sedang bermalas-malasan di kamar belakang pun terlonjak kaget. Mendongak ke atas melihat tuan putriku yang sedang menempelkan benda bernama handphone di telinganya. Wajahnya merah menahan tangis. Haduuuh…nangis mulu ah si Lily. Aku kembali bergelung, sambil tetap mendengarkan Lily.

“..mas Adam...hallo?..mas…dengerin dulu...kok gitu sih...salah Ly apa mas?”, diam sejenak,” …..iya Ly tau, Ly juga gak ngelarang mas Adam main sama temen-temen, tapi Ly kan pengen sehari mbok ya di telepon, nanya kabar kek, atau paling ndak sms lah”, berhenti lagi,” iya….hallo..mas…? mas..? hallo?? Mas adam?” Lily terkejut, air matanya sudah berlinang, tinggal sedetik lagi untuk jatuh. Suara Adam tak terdengar lagi.

Aku mendongak, kali ini sembari menghampirinya. “meow…” sapaku lirih. Lily tak menoleh, dia merosot, terduduk, satu tangannya memeluk kakinya, sambil menahan tangis,dan satunya lagi membekap mulutnya sendiri.hmm..mungkin takut ketahuan ayah ibunya. Wajahnya benar-benar merah dan basah. Lily terlihat sangat kaget diperlakukan seperti itu oleh kekasihnya.

Lirih lirih kudengar dia berkata sesuatu,” astagfirullahhal’adzhim...astagfirullahal’adzhim..Allah…” terucap dari bibir mungilnya.

Aku tak tahu apa artinya, namun sepertinya kata-kata ajaib, karna setelah mengucapkan itu, perlahan Lily berhenti menangis.tinggal isaknya sekarang. Aku mendekat dan mengusap usap kepalaku ke kakinya. Lily tersenyum sambil menahan tangis,

” aku perempuan kurang baik ya tonks? Aku terlalu mengekangkah tonks? Cukup seminggu mas gak hubungi aku, aku tahan, aku sabar…kok diginiin sama mas, dah hampir 2 minggu..huhu…aku kurang baikkah buat dia?huhu..”

walaaah..kok malah jadi nangis lagi…bingung aku. Gak kok Ly, kamu sahabatku yang terbaik, kamu sayang sama aku” aaah..aku harap aku mampu ucapkan ini dengan bahasanya.

Aku menatap matanya, kesedihan mendalam terlihat dari kedua mata coklatnya. Hmm..ya ya..aku tahu, disaat Lily ingin setia dan berniat serius, kekasihnya malah angin anginan. Huh..padahal si adam tau, Ly kemarin dah dilamar sama dua orang sekaligus. Sama orang yang lebih segalanya dari adam. Tapi dasar Lily, malah milih kamu yang memang tak berusaha melepasnya kala itu, kesetiaan yang berujung kesedihan..hmm…manusia bilang ini cinta.

“Lily ndak boleh sedih ya Tonks…Lily pengen lulus ujian cinta kali dari Allah…Lily sayang sama mas Adam. Mmh..mas adam orang baik kok Tonks... Lily yang harus banyak ngertiin mas adam. Lily gak boleh nuntut lagi. Lily capek main-main, Lily pengen serius. Lily sayang sama mas Adam..huhu”

Tangisnya pecah seketika, masih sambil mengelus elus tubuhku…sekarang Lily terduduk disampingku.

“meow…”, Kok aku sedih ya…huuft..Aku gak tahu harus bilang apa, Cuma bisa diam disana sambil mengeong..

Setidaknya menemani Lily dalam kesedihannya,

Demi persahabatan ajaib antara aku dan Lily.



salam hangat, TONKS




Selasa, 13 Juli 2010

jangan terlambat menyadari CINTA...

Ni kutipan sebuah cerpen dari kumpulan cerpen Habiburrahman El Shirazy, pengarang novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta. Kalo mau baca cerita yang laen yang pasti enggak kalah mengharukan baca aja kumpulan cerpennya yang berjudul Pudarnya Pesona Cleopatra. Cerita nya singkat sih, enggak panjang lebar kaya novel, cuma udah cukup bikin aku mengharu-biru pengen nangis… hehehehehe dasar cewek… ;p



Pudarnya Pesona Cleopatra

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.

“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya.

Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bias berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.

Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.

Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang

bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia. Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.

“wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah.

Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.

Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu.

” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angina diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih.

” Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadismesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat pukul 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. ” Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.

Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bias dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dielukelukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.

Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memakimaki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu?

Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini. Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. “Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga!” Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain.

Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.

Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya.

Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. ”Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku.

Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.

Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan.

Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntahmuntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku nggak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab.

Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ”Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ”Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa terjadi?”. “Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predikat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantik itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, samasama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin.

Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali namun Yasmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengen rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya.

Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut.

Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong.

Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati.

Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya.

Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan ya Rabbii ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.

Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya.

Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya.

Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.

Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.

” Raihana…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya” .

Hatiku bergetar hebat. ” kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami”.

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana.

Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua …….



******
hiks...suka bgt ma critanya...
buka blogna mbak Eritayuliastuti, ada crita ini, copas ilmu deh...tp beliau juga copas kok tenang aja..hehe ;p

aku cuma mikir...
gimana kalau aku memposisikan diri sebagai si suami, si pria pemeran utama...
kalau suatu saat nikah.dengan orang yang sama sekali gak aku cintai..
huaaaahhh >,< hiks...
padahal kan aku yang harus melayani, aku sang istri...
kalau istrinya gak cinta gimana?
iya kalau dapat suami yang cinta mati...pasti bisa sabar..kalo gak..
waktu aku ngomel2 bawaan lagi haid misalnya..
hiks..dosa banget aku nya ya.. :(

Ya Allah...Yang Maha Membolakbalik hati...
Ya Barri Yang Maha Menata...
tatalah hatiku agar bisa mencintai suamiku kelak..[amiiin^^]


Rabu, 23 Juni 2010

di atas metromini



Cia menatap keluar jendela bus.
ditengah derunya suara mesin dan klakson bus, wanita itu menikmati lamunannya. sebagai penghibur hati dan fisiknya yang kelelahan seharian bekerja.
selalu...wanita itu naik metromini berwarna hijau putih itu.

diluar terdengar suara mobil berlombaan dengan adzan magrib sayup-sayup dikejauhan.
dan bus yang ditumpanginya merayap diantara mobil dan manusia-manusia yang mencari celah untuk sekedar menyeberangi jalan.
semua ingin pulang kerumah, batinnya.
penat keringat dan sisa-sisa bau parfum tercium dihidungnya.
satu demi satu gedung-gedung besar menjulang angkuh dilewatinya.

"ramainya kota besar ini, sesaknya bus ini, dan aku benar-benar sendiri..."
Tuhan..tak boleh mengeluh memang, tapi aku sangat letih.
dddrt...dddrt..hapenya bergetar.hmm..sms dari kinasih, sahabat karibnya.

"LOVE IS RESPECT
Jika seseorang mengatakan bahwa dia mencintai Anda, tetapi kata-kata dan tindakannya tidak menghormati Anda sebagai pribadi yang baik dan mandiri, maka dia tidak betul-betul mencintai Anda. Mungkin dia ingin memiliki Anda, tetapi pasti bukan cinta.
CINTA ADALAH PEMUJAAN.
Maka bagaimana mungkin orang yang ...seharusnya memuja Anda – menyakiti Anda?

Be wise, this is your life."

Mario Teguh



.....
....
....

Cia membaca sms dari sahabatnya, yang katanya mengutip dari seseorang yang luar biasa.
dan untuk itulah Cia terdiam beberapa menit....

Tuhan tahu waktu yang tepat untuk menyentuh hatiku,

'Maka bagaimana mungkin orang yang ...seharusnya memuja Anda – menyakiti Anda?' kata-kata terakhir ini sungguh menyesak didadaku..

perasaan bersalahku telah menyakitinya.., hingga ia berani tegas tak mencintaiku...sikapku yang ternyata menyakitinya...

air mata wanita berlesung pipi itu jatuh...
cepat-cepat ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, namun bibir tipis yang bergetar dengan hebat tak dapat membohongi siapapun yang berada duduk di dekatnya.untungnya mereka semua pura-pura tak tahu-atau memang tak mau tahu.

dan hidungnya mulai memerah menahan tangis.

ya..perjalanan pulang kerja kali ini sangat membuatnya rindu pada kekasih lama...

hati...
maafkan aku yang sempat tak menghargaimu..
...sungguh maafkan aku yang mencoba untuk "bersabar".
tak akan menyalahkannya..semua kesalahanku semata...

sungguh..
kukira sabarku kan berbuah kebaikan...
kuhormati diam priaku,
kuhargai privasi pribadi dan waktunya yang lebih banyak dipersembahkan tuk teman-temannya,
tak ada marahku lagi, tak ada manjaku lagi
menjadi pelayan hati yang sangat setia...

mencoba mencintai seseorang yang tak sempurna dengan cara yang indah agar keberadaannya menjadi sempurna...

Cia tersenyum menahan tangis dengan bibir bergetar hebat...
tangannya memegang dada, mencoba menarik nafas dalam-dalam.
" ...sesak Tuhan..."

tiba-tiba semuanya gelap..
Cia tertidur..

****

langit senja telah berubah perlahan menjadi kelam,
sayup sayup masih terdengar suara orang mengaji selepas shalat magrib,
Marcha terbangun...
pasti dia tertidur lg di dalam metromini ini...
saat itu waktunya pulang kerja, jejal manusia dalam bis bercampur baur bau keringat dan parfum.
hmm..aneh...knp ada air mata?
apa aku tadi menangis dalam tidur?

Dahi Marcha berkerut keheranan, segera dihapusnya air mata 'aneh' itu.
"huh..gak ada waktu untuk menangis..percuma jauh-jauh ke ibu kota masih saja menangisi si brengsek itu" air muka wanita itu berubah keras, terkesan egois.

'jakarta bukan tempat untuk perempuan cengeng seperti Cia, aku yang harus ambil alih...bersikap tegar menghadapi hidupnya...huh'


*****

bersambung...

Rabu, 16 Juni 2010

tAK siA-siA...



aku duduk didepan jendela berterali putih, dengan meja marmer kecil di depanku. hmm...diluar ada sebuah taman kecil yang hijau dan basah.
udara saat ini lum
ayan sejuk, tidak..tak kuhidupkan AC kamar, jendelanya justru kubuka hingga bau tanah basah menyeruak masuk dalam kamar ini.

bau favoritku..

hmm...gerimis baru saja mempercepat ritme lajunya, derasnya hujan diluar memperindah lamunanku. kunikmati titik-titik yang turun menghujam ketanah,sama nikmatnya seperti secangkir choco latte yang mengepul panas disamping buku harianku.

saat ini baru pukul 2 siang, namun langit jakarta sudah menyuguhkan kesejukkan dan keteduhan yang jarang ada.
dan disinilah aku, sudah 2 minggu menumpang dirumah pamanku yang nyaman. Alhamdulillah 2 bulan yang lalu omku dipindah tugaskan dari lampung ke jakarta selatan.
dan aku yakin, itu bukanlah suatu kebetulan semata...



disela suara hujan, kupasang mp3ku...

cahaya hati-opick...
"Allah Engkau dekat..penuh kasih sayang.....takkan.."

ah..sayup-sayup kuresapi kata demi kata yang mengalun sendu...

'jangan...jangan menangis Cia...jangan lagi..' kudengar suara dalam diri.

aku menarik nafas dalam-dalam, mmh..sungguh bau favoritku, bau tanah dan rumput basah yang segar. entah mengapa dan sejak kapan kusuka bau ini. mataku menatap dalam-dalam rumput hijau yang basah dengan indahnya, sembari menyandarkan tubuh dikursi putar.

ini juga lagu kesukaanya mas.
suatu ketika, pernah dia berkata padaku, "rasanya ingin menangis dengar lagu ini, entah kenapa jadi merasa keciil dihadapan Allah, dan betapa sayangnya Allah sama mas..sama Cia"
itu kata mas,dulu..saat mas masih berbagi cerita dan kisah denganku. aah..sudah..sudah...jadi teringat padanya, semakin merindunya. hampir tiga minggu kita tak bertegur sapa, ini kali pertamanya dalam 2 tahun terakhir.
masku..jagoanku...cintaku...

hujan kali ini lagi-lagi ku mengingat
mu,
perih yang kau tancapkan dihatiku berkelebat dibenak,
terkuak dan bernanah tuk kesekian kali,
sakit dan ketidakberdayaanku terputar tanpa ijin diingatanku, kembali pada bulan-bulan kau siksa aku dengan diammu.
terputar kembali saat akhir pertemuan dan pudarnya cinta dimatamu kala itu, sungguh sakit...

karna disaat yang bersamaan,
dalam terbentangnya jarak, kurawat cinta yang kau titip dihatiku,
semakin membesar dan membesar...


Astagfirullah...apa yang kupikirkan..
cepat-cepat ku alihkan ingatanku sesuatu yang menyenangkan...
mmhh..kali ini pada tawa dan senyummu...

ya mas, tawa dan senyummu saat bersama teman-tema
nmu kemarin itu. sama seperti saat berdua bersamaku dahulu.
dan aku merelakan cintaku hanya untuk melihatmu tertawa lepas setiap hari seperti itu.
kesedihanku yang berlipat seperti terkena mantera itu, tiba-tiba musnah entah kemana, begitu teringat betapa bahagianya mas sekarang,
lepas bebas tanpa beban dan bayang-bayangku,

Cia kembali menulis di buku hariannya,

"ya..
DNA cintaku perlahan lahan kupadamkan,
demi melihatmu tertawa dan tersenyum lagi seperti dulu..
jadi...berbahagialah mas, dengan melihatmu tersenyum tampan seperti itu, aku yakin pengorbananku tak sia-sia.."
Cia tersenyum...menaikkan lutut dan mendekapnya...


hujan semakin deras diluar sana...
cia tertunduk,bibirnya bergetar hebat,

menangis memeluk lututnya..
tak ada lagi yang dapat diandalkan kecuali dirinya sendiri.
menangis dalam hening kamar
dan paraunya suara hujan.
menghibur diri dan hati yang ternyata masih terluka...

Senin, 31 Mei 2010

langKah kaKi...


malam ini berangkat...

ya..aku..Marcha..
24 tahun...
memberanikan diri ke ibu kota..
membelah belantara metropolitan yang sama sekali tak kukenal..

ya..aku Marcha...
perempuan berjilbab...
cantik...single...
dan mandiri...

melangkahkan kaki dalam rencanaNya yang luar biasa...

Bismillahirahmaannirahiim....


kesini dulu...



















setelah itu kesini...


Sabtu, 29 Mei 2010

Marcha.....

"Cha...jangan terlalu kebawa perasaan lah, pake logika juga,

dia udah ngehancurin hati loe banget tapi kok loe masih sayang ma dia,

kaya' nggak punya harga diri aja"

sedikit tersentak Marcha membaca ulang balasan chatting dari teman cowoknya. suasana sepi di cafe itu semakin membuatnya merasa menjadi terdakwa. alunan musik jazzy ceria pun tak mampu menenangkan kegundahannya.

padahal pagi ini cerah, secerah hati Marcha tadi pagi hingga memutuskan menjadi pelanggan pertama yang datang di cafe langganannya ini. Tadi rencananya Marcha ingin menyusun beberapa skrip untuk novel terbarunya, sembari membuka facebook, ternyata Zaldi menyapanya via chat, sudah lama sekali mereka tak bertemu, mungkin ada 3 tahun, dan bergulirlah obrolan ringan mereka hingga pada topik satu itu, Marcha lalu mencurahkan isi hatinya pada sahabat waktu kuliahnya, juga sahabat Adam,kekasihnya...mantan kekasihnya.

,sadis memang,tapi ini realitanya,benar apa yang kau katakan Di.., batin wanita itu dengan wajah sedih, tertegun memandang layar notebooknya. secangkir capucinno panas masih mengepul panas disampingnya.

,ya...aneh..hati ini aneh.., gw kenapa sih!!, Marcha menggigit bibirnya, lalu membaca tulisan Zaldi lagi,

"maaf kalau kata-kata gw nyakitin hati lo, gw cuman gak mau lo terus nikmatiin rasa sedih, sementara dia aja sekarang udah gak mikirin elo Cha..."

;ah..iya..dia aja udah gak pernah mikirin gw pastinya, Marcha mengulum senyum, mulai menekan nekan tuts keyboard notebooknya.

"gpp kok Di...thanks dah diingetin. pasti Allah yg ngirim elu bwat shockterapi in gw....walo gw udah tau semua itu..semua atas ijin Allah.mungkin Allah mo kasih pelajaran bwat kami yg sempat tak bersyukur atas hubungan ini.justru menyalahgunakan rasa yg telah diberi sang Rabb, sekarang ada saat gw bs kuat dan tangguh menghadapi semua, namun ada kalanya gw diposisi sangat2 rapuh, gw seorang wanita Di..beda dengan Adam..yang bilang ini juga sakit untuk hatinya namun gw yakin tetap bisa tertawa...doain aja semoga dengan hidup gw yg baru..gw bisa terus tangguh dan menjadi kuat tanpa Adam..."

sent..

Zaldi membalas, " harus itu...! Adam aja bisa tanpa elo! pasti lo juga bisa tanpa Adam! ^_^ "

nyuuuut..., iya...dia aja bisa tanpaku..

Marcha tersenyum walau dengan setetes air mata yang jatuh, " iya Di..doain gw ya^^"

"yup..pasti :)"

tak lama Marcha menutup notebook kesayangannya, lalu menghabiskan capucinno yang sudah setengah dingin sampai habis, dan beranjak pergi dari cafe kesayangannya....


melanjutkan hidup di awal pagi yang indah...





maAFKan aku...

maafkan aku...
bukannya aku ingin menjadi munafik dengan semua yang kulakukan padamu,
hingga sempat menghancurkan sesuatu yang baru kita bangun,
namun karna masih dalamnya rasa yang menggelung riuh di dalam dada...

salahku memang dalam mengambil langkah, aku hanyalah wanita muslimah biasa yang ingin menjadi baik tanpa berniat ternilai tak baik...

maafkan aku...

bukannya mas tak ada arti lagi dimataku, seperti katamu malam itu..

namun justru karna masih bertahta di relung hati

aku tak sanggup walau hanya menjawab sapa pagi harimu...


maafkan aku mas...

bukan maksudku tuk menutup silaturahim antara kita,
namun ku tak kuasa menahan bulir air mata yang jatuh tiap ku bersua atau sekedar saling sapa..
telah terlalu dalam kau hadir menyapa perasaaanku...



sungguh...
maafkan diri yang sedang menata serpihan hati yang pecah...




cancan mash

Kamis, 20 Mei 2010

saTu ceriTa..berjuTa keNAnGan...




tiba-tiba aku ingat pembicaraan kita waktu itu..
ketika kita menikmati senja langit jogja berdua,ehmm...juga yang kedua ...satu malam sebelum aku pulang ke desaku.. waktu itu mas bawa lepy, trus kita buka tentang kereta-sekarang aku lupa apa alasan kami membukanya;p- juga buka FB. gak tau kenapa, mas langsung bercerita," mas inget...waktu kemaren tu, pernah sa nyapa di fb mas,'halo ganteng..' inget gak?" ,

aku manggut2
"...iyaaa inget..ndak dibales..huhu"jawabku,
sebel banget deh klo di inget2..waktu itu kusapa, gak bales ee..gak la
ma masku off..gak ada sms juga tuh. say sorry kek or something.
iiih..sabaaar..sabar..aku ga
k tau apa salahku-hiks..waktu itu dia dingin lagi-

"iyaa..dengerin dulu sie..mas mo cerita, iyaa...itu mas bukanya lagi di kantor, pas lagi ada temen2 juga dibelakang mas, tiba2 chatnya ca muncul dengan kata2 itu, waah..sudah deh...jadi bahan ceng-cengannya mereka lagi..ada tuh seminggu mas di gituin" kisahnya panjang lebar.

dan aku hanya bisa mengerjap-erjapkan mataku memand
angnya...

oooooh...


oohhh...
ternyata itu toh alasannya...
apakah ini juga yang membuatmu lama-lama membenciku? tak menyayangiku?


tapi ada yang aneh...
kenapa mas langsung log off... bukankah aku -ketika itu- kekasihmu?? atau apakah mas malu mempunyai kekasih sepertiku? aneh..sangat aneh...sampai sekarang aku tak tahu alasannya

kujawab,"kenapa baru cerita sekarang sieee..malah disaat kita udah gak ada hubungan lagi, kamu justru lebih banyak cuap cuapnya..iih.." dia hanya tersenyum malu.
aaaggh..agak sebel ama masku
. pengen banget kupencet idung besarnya.huh >,<

satu yang kupelajari dari sifatnya, sungguh sulitnya dia mengungkapkan isi hati dan pikirannya dalam bentuk komunikasi yang indah. padahal hubungan jarak jauh kami sangat sangat butuh itu.huuft..sangat..sangat membutuhkan kesabaran mendampinginya dulu..-hehe..sudaahlaah- lihatlah..dekatnya aku berada disebelahnya malam ini, hanya berdua saja. dan dia kembali lagi menjadi masku yang dulu. what amazing...

ingatanku sedikit mengabur...
yang aku ingat ketika mas mulai antusias membicarakan tentang dirinya,

tentang masa kecilnya lagi,

almarhum papanya[ pa...dia jagoanku sekarang^^],
keluarganya,adik-adiknya..
juga impian-impiannya, yah..
dan saat itu seluruh perhatianku ada padanya.
eh..gak juga dink..
ada sms dari kawanku yang ngajak ketemuan

-namun maaf beribu maaf, walau si mas udah bukan kekasihku, tapi entah knapa hatiku memilih untuk bersamanya malam ini,upz.maapkan daku bulek ;p-
seperti biasa, mas gak pernah mau aku sambi, jadi aku smsin kawan2ku itu dulu, nge delay. abis tu aku harus dengerin mas cerita lagi.

[ihiiiiy..kok aku girang bgt yak waktu mas bilang itu rasanya masih disayang dia..hihihi^,^]

impian mas suatu saat nanti, mas punya usaha sendiri, punya studio sendiri[AMIIN YA RABB],
"mas bukan tipe yang kerja kantoran sa.."katanya.
yup yup..apapun pekerjaanmu sayang..aku sudah mempersiapkan hatiku kok untuk mendampingimu -duluuuuu..huks-,

lanjuuut...trus kita ngomongin pesawat yang lewat [mulu],
"ih...sa dah lama gak naek pesawat..huks], mas tersenyum mendengarnya[ sungguh! kamu cakep sekali malam ini mas..huh!],


" mas sih enak naek pesawat mulu tiap pulang"lanjutku sambil [sok] manja..[he5...njijik'i tenan ;p]
"mas pengen kapan-kapan pulang ke sumatra gak pake pesawat sa..." katanya tiba-tiba sambil menatapku dan mencondongkan tubuhnya ke arahku, seakan-akan apa yang akan dia katakan ini, adalah sebuah rahasia, dan secara refleks aku mencondongkan tubuhku -telingaku- ke arahnya,
"....mas pengen pulang naek mobil sendiri, beli mobil sendiri dari hasil jerih payah mas, trus pulang kerumah ibu...sama anak-anak..." dan mas menatapku dengan tatapannya yang paling lembut dan penuh cinta.

tuink.
....!
tiba-tiba aku menunduk kebawah.kok deg deg an yaaaaaaaa....>,<

-..sama anak-anak berarti juga sama emaknya dunk mas, siapa yaa..emak anak2mu besok-batinku..-agak bersedih dibagian ini-

---deg-deg--deg---

waduuuh maaaaass..jangan tatap aku seperti ini -lagi- >,<>
[dalam hati..berdoa dan mengamini apa yang mas katakan, apapun yang ada dihatimu,kuamini ] .....
...... --diam..sunyi...---

beberapa detik kemudian mas menyadari kecanggungan yang tercipta di antara kita, lalu dia merubah posisi duduknya. mengaduk aduk hot strawberry chocolate kepunyaannya.

huuft..semoga detak jantungku tadi gak kedenger ya ma mas..malu aku.. >,<

"bagus ya mas
..kacamatanya" tanyaku-mengalihkan pembicaraan ;p,
dia duduk di depanku dan memandangku sambil tersenyum,
" iya..bagus..ho'o..kenapa gak dari dulu sa pake kacamata..waktu kita masih.....sa harusnya pake" katanya,
setelah kata
masih, volume suaranya menurun, tapi aku tau apa maksudnya ;p ,
"
hehe..waktu kita masih apa mas..pacaran gitu?"godaku sambil melirik kearahnya,
dan dia membalas dengan tatapannya yang uugh >,< huwwwah..
,"ehem..jangan ngeliatin aku kaya gitu mas..ntar jatuh cinta lagi loh kamunya..repot ntar...hehe
" celetukku sambil membetulkan jilbab.

-padahal ya yang bisa jatuh cinta lagi itu ya aku..hehehe ;p -
dia malu,"ih..sa niee.."
-masih menatapku dengan lembut.

tiba-tiba mas pencet ujung idungku
"aaw!" kaget dunk >,< zat dopamine dalam tubuhku meningkat, hepi..hepi..hepi..yei yei.. pipiku memerah dan darah berdesir mengaliri dadaku, oouchh..dag dig dug duer lagi deeh..huuh..>,<

eh si mas malah senyum-senyum sambil ngudek ngudek coklat panasnya.
hahaha....hubungan yang aneh bin ajaib..

kenangan yang super indah ^_^